Translate

Jumat, 29 Juni 2012

Tembang Kehidupan


 “Kring....kring....kring....” suara telpon seluler di atas meja samping tempat tidur. Tangan yang masih lemah menari-nari di atas meja, untuk memastikan letak telepon seluler tersebut, dan mencoba menghentikan suaranya. Sesaat kemudian ia melihat jam yang berada di dinding kamarnya. Jam menunjukkan tepat pukul setengah lima, matanya langsung terbelalak melihat jam. Segera tubuh yang masih lemas karena baru bangun tidur itu menuju kamar mandi yang letaknya tak jauh dari kamar tidur. Lekas ia seka muka untuk menghilangkan rasa kantuk. Kemudian ia segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang muslim. Matahari masih enggan menampakkan wujudnya, angin pagi pun masih terasa begitu dingin.

“Tookk...tookk...tookk...” suara puntu yang diketuk.
Samar-samar terdengar suara yang memangil dari luar, “ Andri...Andri... cepat buka pintu, diluar dingin!” suara yang tak asing bagi Andri. Suara seorang laki-laki yang selama ini ia panggil ayah.
“Iya, sebentar!” jawabnya sambil lari menuju pintu yang masih terkunci itu.
“Dasar bodoh, mengapa lama sekali? Apa kau ingin membunuhku karena kedinginan.?!” Suara yang lantang itu memecah kesunyian pagi.
Maaf Yah...aku masih sholat.” Jawabnya dengan terbata-bata.
“Apa?? Kau lebih mementingkan pekerjaan yang tak penting itu daripada aku ayahmu, dasar anak durhaka!” Bentak sang ayah pada Andri.
Andri hanya bisa tertunduk, dengan hati yang tersayat. Kemudian dengan kasarnya sang ayah itu mendorong tubuh Andri hingga tersungkur ke lantai, air matanya menetes menganak sungai namun cepat-cepat ia bangkit dan menghapus air matanya. Seperti biasanya ia mulai menanak nasi dan merebus mie untuk makan paginya sebelum berangkat ke sekolah. Jam menunjukkan pukul setengah enam dan sang surya dengan malu-malu menebar sinarnya. Andri lekas sarapan setelah ia ganti bajunya dengan seragam sekolah. Tak membutuhkan waktu yang lama ia pun berangkat ke sekolah, namun sebelum itu Andri membuka pintu kamar sang ayah untuk melihat sang ayah yang sedang nyenyak mengunduh mimpi. Sebenarnya dalam hati kecilnya ingin sekali mencium tangan sang ayah untuk sekedar berpamitan, namun ia sadar bahwa itu tak akan mungkin terjadi. Akhirnya ia hanya berbisik di depan pintu.
 “ Ayah, aku berangkat...aku mencintaimu seperti aku mencintai ibu, walau ayah telah membuat hidup kami menjadi berantakan.” Bisik Andri dengan mengintip sang ayah.
Lekas ia mengendarai motor biru yang selalu setia menemaninya menimba ilmu. Andri adalah salah seorang siswa di salah satu SMA swasta favorit di kota tempat tinggalnya. Dia seorang laki-laki yang rajin dan juga disiplin.
Tak beberapa lama ia sampai di depan gerbang sekolah, lekas ia parkir kendaraannya, dan ia menuju kelas. Di depan kelas ia dapati beberapa temannya yang sudah datang, mereka asik dengan kegiatan mereka. Diantaranya ada yang asik ngerumpi, sekedar membicarakan omong kosong bualan anak-anak, ada yang asik dengan HP di tangan, ada yang mengerjakan PR, dan ada yang menyapu kelas. Kelas yang berukuran cukup besar itu terasa sangat riuh oleh suara-suara teman-temannya. Salam yang ia ucapkan memecah keriuhan itu, namun beberapa saat kemudian kembali riuh. Andri segera meletakkan tas dan duduk. Keriuhan yang temen-temannya buat seakan ia hiraukan dan ingatannya melayang ke masalalunya ketika sebuah desakan ekonomi membuat sang ayah hilang kendali. dahulu hidup keluarga Andri sangat makmur, Andri hidup bersama ayah, ibu, dan dua kakaknya yaitu Ilham dan Bima. Namun sebuah musibah menimpa keluarga itu, sang ayah mendapat PHK karena perusahaan tempat ayah Andri bekerja mengalami kebangkruan. Seketika ayah yang selama ini ia kenal sebagai ayah yang bertanggung jawab atas kehidupan keluarga berubah menjadi seseorang yang tak memiliki tanggung jawab, dan menelantarkan keluarganya. Setiap hari hanya menghabiskan uang untuk judi dan mabuk-mabukan hingga membuat berantakan keluarga. Setiap saat dan waktu terjadi pertengkaran, hingga rumah serasa seperti neraka. Ibu Andri menuntut cerai karena tidak kuat menerima perlakuan yang tidak selayaknya dari sang suami.
Setelah bercerai, ibu Andri pergi ke luar negri untuk mencari dapat memenuhi kebutuhannya dan biaya sekolah Andri, karena sang ibu yakin kalau ia hanya mengandalkan mantan suaminya pasti itu akan sia-sia saja. Kini Andri hanya hidup bersama ayahnya, setiap hari hanya makian dan cercaan yang ia dapat. Selama empat tahun ia tinggal bersama ayahnya hingga Andri telah terbiasa dengan perlakuan sang ayah padanya.
*****
Druttt....druttt....drutt..... terasa Hp di saku Andri bergetar itu membuat buyar semua lamunannya, segera ia mengambil Hpnya di saku dan melihat ada sebuah pesan yang masuk.
Ibu : “Andri, tadi ibu sudah mentransfer uang 1jt untuk membayar uang sekolah.”
Andri : “Iya bu...akan segera aku batarkan. Kapan rencana ibu akan pulang, rasanya sudah lama sekali aku tidak mencium tangan ibu.”
Ibu : “Begitupun juga ibu Nak, tapi bersabarlah semua penderitaan ini pasti akan berakhir.”
“tenggg.....tenggg...tenggg....” taanda jam pelajaaran pertama akan dimulai.
Andri : “Bu...sudah duulu ya...pelajaaraan akan segera dimulai. Andri sayang ibu...”
****
Setahun berlalu dengan cepatnya, namun kehidupan Andri tak kunjung baik, malah semakin parah saja. Semua benda berharga yang ada dirumah Andri kini ludes dijual dan juga sebagian diggaadaikan. Motor biru Andri pun kena sasaran sang ayah. Surat BPKB motor telah disita penggadaian untuk jaminan. Tinggal menunggu bulan atau tahun saja untuk penggadaian merampas motor itu. Karena sungguh tak mungkin sang ayah membayar tebusan pada peggadaian. Uang itu hanya habis untuk foya-foya semata. Andri hanya dapat meminta belas kasih pada Tuhan Yang Maha Esa.
****
Suatu malam seperti biasa Andri belajar dan mengerjakan beberapa tugas dari guru. Malam itu sang ayah pergi dengan motor GL MAX hitam dengan jaket hitam. Begitu saja keluar rumah tanpa ada sepatah kata pun ia sampaikan pada anak bungsunya itu. Andri mengintip sang ayah yang memacu morornya dengan kencang dari jendela kamarnya. Setelah itu segera ia menuju pintu dan mengunci pintu. Karena dia sangat hafal kalau sang ayah tak akan pulang malam itu dan pulang selepas adzan subuh.
****
“tik...tik...tik...” suara jam kamar, seakan suaranya menguasai ruangan karena sudah tak ada lagi yang lebih keras daarinya. Kadang terdengar suara binatang-binatang malam yang memeriahkan keheningan malam, dan sesekali terdengar gemuruh mesin motor yang melintas di jalan.
“tok...tok...tok....” Suara ketukan pintu.
“Andri.....Andri.... cepat buk pintu!!!” Mengiringi ketukan pintu yang memecah kesuyian malam.
Lekas Andri bangun dan membuka pintu, di sana bukan sang ayah yang ia dapati melainkan Pak Tarjo teman sang ayah.
 “Ada apa Paman?” tanya Andri.
“Gawat...” dengan terengah-engah ia mencoba untuk mengeluarkan suara.
“Apanya yang Gawat Paman?” Andri bertanya kembali, dengan sedikit kebingungan karena Pak Tarjo tidak berbicara jelas.
“Ayahmu Ndri!” sambil mengusap peluh yang mengalir di dahinya.
“Ayah?? Kenapa dengan Ayah paman? Dia kenapa?” rasa cemas mulai menggenggam perasaannya hingga jantungnya terasa sulit berdetak.
“Tadi kami sempat terlibat cekcok, setelah kami menenggak beberapa gelas alkohol, kami sama-sama mabuk dan hilang kendali. Tatkla ayahmu langsung menaiki motornya dan mengemudiknnya dengan begitu kencang, sekitar beberapa detik kemudian terdengar suara benturan yang begitu keras. Aku langsung menghampiri sumber suara itu dan kudapati ayahmu telah bersimbah darah. Lekas kubawa dia ke klinik terdekat namun naas nyawanya tak dapat tertolong.” Jelas Pak Tarjo dengan mata yang sembab dan suara serak bergetar.
“A....a...apa.? jangan bercanda paman itu bukan lelucon. Itu tak mungkin terjadi, pasti paman masih mabuk. Cepat sadarlah paman, dan tarik kata-kata yang telah paman lontarkan.” Bentak Andri, dengan suara yang sedikit parau.
“Aku sungguh-sungguh nak! Ini bukan gurauan atau semacamnya.” Bentak Pak Tarjo.
Seketika tubuh Andri lemas tersungkur di lantai, pipinya dibasahi oleh air mata yang tak henti-hentinya menetes. Sebuah kenyataan yang taak dapat ia terima, kenyataan yang begitu menyesakan dada. Kini ia harus tinggal sendiri di rumah tanpa teman. Ia tak tahu bagaimana cara untuk melanjutkan hidupnya.
****
Lima bulan telah berlalu sepeninggal sang Ayah, uang kiriman sang ibulah yang ia andalkan untuk memenuhi kebutuhannya. Kini Andri harus mampu mengatur pengeluaran.
Dalam hati Andri terpercik sebuah harapan untuk mengubah kehidupan keluarganya yang serba kekurangan. Oleh karena itu Andri bertekat untuk meneruskan studinya ke perguruan tinggi. Oleh karena itu kini dia berusaha keras, dengan belajar tekun. Usha dan harapannya tercapai, kini ia dapat bersekolah di salalah satu universitas di kota Yogjakarta. Kota yang ia impi-impikan untuk meneruskan perjuangan hidupnya.
****

3 komentar: